Wah...
Seperti diawal awal yang lain, pertama kali biasakan minta maaf.
Kenapa ya, terkadang sulit menyelaraskan plain/schedule dengan actual.
Padahal plainingnya ngga terlalu njelimet kaya schedule maha njelimetnya di tempat kerja,yang biasanya mulai dari draft, revisi dan revisi.
Saking njelimetnya, untuk memudahkan kita copas dari yang lama, tinggal ganti datenya doang.
Atau kita kurang konsen dan konsisten. Terbiasa menunda nunda. Termasuk budaya jam karetnya sebagian ( besar ) Indonesia. Kita bisa contoh disiplinnya Jepang, tapi bukan budaya harakirinya, yang katanya terus meningkat sejalan krisis gombalisasi.
Ada yang bilang itulah benar ( bukan salah ) satu dari sekian banyak kebenaran tentang perjuangan.
Hidup adalah perjuangan( Narsis ). Kapan akan berakhir?
Hanya Allah yang Mahatahu, kita mohon perlindunganNya.
Senin, 06 April 2009
Senin, 23 Maret 2009
Penyampaian SPT tahunan
Tahun -tahun sebelumnya, ngga ada urusan dengan ini. Semuanya diwakilkan oleh perusahaan, sebagai pemotong pajak. Karena akhirnya banyak karyawan yang bisa lebih " kaya " dari take home pay, munkin lebih "miskin" juga, ini diluar kemampuan perusahaan. Mulai tahun ini, (th pajak 2008), adanya Sunset Policy, perusahaan meminta karyawan membantu program perimerintah.
Sosialisasi di tempat kerja cukup gencar. Sayangnya aku belum tahu, seberapa besar pajak dari perusahaan tempatku bekerja yang disetor ke kantor pajak selama ini. Pasti sangat besar. Sebuah perusahaan otomotif internasional.
Hari ini aku sudah melaksanakan satu kewajibanku terhadap negara. Sempet lihat blog pa Eko soal SPT. Kasih sedikit cerita. Mudah -mudahan semua warga negara bisa ikut melakukannya.
Soal pengawasan, kita serahkan pada institusi yang sudah ada, kalau perlu di tambahkan secara khusus.
Sederhana saja, kita laksanakan kewajiban kita. That's it.
Sosialisasi di tempat kerja cukup gencar. Sayangnya aku belum tahu, seberapa besar pajak dari perusahaan tempatku bekerja yang disetor ke kantor pajak selama ini. Pasti sangat besar. Sebuah perusahaan otomotif internasional.
Hari ini aku sudah melaksanakan satu kewajibanku terhadap negara. Sempet lihat blog pa Eko soal SPT. Kasih sedikit cerita. Mudah -mudahan semua warga negara bisa ikut melakukannya.
Soal pengawasan, kita serahkan pada institusi yang sudah ada, kalau perlu di tambahkan secara khusus.
Sederhana saja, kita laksanakan kewajiban kita. That's it.
Kamis, 19 Maret 2009
Bicara politik
Hari ini sempet baca dialog temen-temen di milist CikBar. ( mohon ijin linknya pa Eko ).
Jadi inget punya pengalaman pertama kali, pemilu reformasi pertama setelah lengsernya pa Harto. Saat itu jadi simpatisan dari Partai Keadilan, sebelum sekarang menjadi PKS. Di kelurahan setidaknya ada wakil dari 4 partai, dan setiap partai ingin ada perwakilannya untuk masing-masing TPS ( Tempat Pemungutan Suara ).
Tanggungjawab yang berat aku rasa. Bukan main, ternyata,dari Partai Keadilan menunjuk aku untuk menjadi seorang Ketua KPPS. Wakilku dari Golkar, Sekretaris dari PDI, anggotanya PPP.
Terasa berat karena ini tugas pertamaku. Lebih berat lagi ternyata aku mendapat porsi tempat TPS di Jalan Veteran, Jakarta Pusat. Tempat yang hanya ± 1Km dari Istana Negara. Lokasinya nya di seberang Markas Besar AD. Kalau di istilahkan daerah Ring 1 ( satu ).
Semakin berat lagi, wakil, sekretaris dan anggota KPPS yang lain adalah senior dalam politik, khususnya Pemilu. Kebanyakan dari mereka pernah menjadi ketua panitia pemilu era Suharto.
Alhamdulillah, dukungan dari kader partai yang lain banyak aku terima. Terima kasih.
Ada beberapa wartawan asing yang sempat mewawancaraiku. Alhamdulillah, baru aja lulus level 6 dari IEC Gambir. Jadi ngga kerepotan.
Pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. Pemilu reformasi pertama, jadi Ketua KPPS, lokasi dekat Istana Negara. Berdiri, mengatur, koordinasi dihadapan para senior.
Seorang perwira polisi mendekati aku, setelah bersalaman, dia berbisik....
Kamu hebat...terima kasih.
Jadi inget punya pengalaman pertama kali, pemilu reformasi pertama setelah lengsernya pa Harto. Saat itu jadi simpatisan dari Partai Keadilan, sebelum sekarang menjadi PKS. Di kelurahan setidaknya ada wakil dari 4 partai, dan setiap partai ingin ada perwakilannya untuk masing-masing TPS ( Tempat Pemungutan Suara ).
Tanggungjawab yang berat aku rasa. Bukan main, ternyata,dari Partai Keadilan menunjuk aku untuk menjadi seorang Ketua KPPS. Wakilku dari Golkar, Sekretaris dari PDI, anggotanya PPP.
Terasa berat karena ini tugas pertamaku. Lebih berat lagi ternyata aku mendapat porsi tempat TPS di Jalan Veteran, Jakarta Pusat. Tempat yang hanya ± 1Km dari Istana Negara. Lokasinya nya di seberang Markas Besar AD. Kalau di istilahkan daerah Ring 1 ( satu ).
Semakin berat lagi, wakil, sekretaris dan anggota KPPS yang lain adalah senior dalam politik, khususnya Pemilu. Kebanyakan dari mereka pernah menjadi ketua panitia pemilu era Suharto.
Alhamdulillah, dukungan dari kader partai yang lain banyak aku terima. Terima kasih.
Ada beberapa wartawan asing yang sempat mewawancaraiku. Alhamdulillah, baru aja lulus level 6 dari IEC Gambir. Jadi ngga kerepotan.
Pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. Pemilu reformasi pertama, jadi Ketua KPPS, lokasi dekat Istana Negara. Berdiri, mengatur, koordinasi dihadapan para senior.
Seorang perwira polisi mendekati aku, setelah bersalaman, dia berbisik....
Kamu hebat...terima kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)